Mendung
menggelayut di areal persawahan pedukuhan Bogoran – Bantul Provinsi
Daerah Istimewa Jogjakarta. Sayup ‘kwek’ suara bebek terdengar, suara
itu berasal dari sebuah bangunan berpagar bata tinggi seluas 1.000 m2.
Bangunan itu merupakan kandang dan penetasan bebek turi milik Musiran
yang namanya dikenal luas di kancah per-bebek-an Jogjakarta. Bebek turi
adalah bebek lokal yang diakui sebagai jenis unggul asal Bantul. “Saya hanya pembibit bebek tradisional,” kata Musiran sambil mempersilakan duduk. Musiran mengaku, akhir-akhir ini produksi DOD (Day Old Duck/bebek umur sehari) sedang sedikit, kena pengaruh musim dan cuaca ekstrim yang membuat suhu dan kelembaban berubah-ubah. Kondisi itu menyebabkan produksi telur turun 5 % dan menurunkan daya tetas 10 – 20 %. “Daya tetas turun karena kondisi induk juga turun. Tetapi faktor terbesarnya adalah mesin tetas konvensional kami sangat terpengaruh fluktuasi suhu dan kelembaban lingkungan. Untuk beli yang lebih canggih modalnya belum cukup,” papar Ketua Kelompok Peternak Pembibit Bebek “Gurun Sahara” ini.
Padahal, lanjut pria berusia 58 tahun ini, pada musim penghujan dan mendekati masa panen raya padi biasanya permintaan DOD melonjak. Sebab peternak bebek berharap harga pakan (bekatul) murah dan tersedianya lahan penggembalaan berupa sawah yang sedang idle (istirahat) setelah panen. “Walaupun pada hari biasa kami tetap kewalahan memenuhi permintaan. Tetapi hari-hari ini seandainya punya DOD 10 ribu ekor sebulan pasti habis,” ungkapnya.
Bahkan menurut Musiran, biasanya permintaan DOD selama Februari sampai Mei (4 bulan) lebih dari 50 ribu ekor. Sangat jauh dari kemampuan produksi Musiran yang hanya sebanyak 4.000 ekor DOD per bulan atau setara 16.000 ekor selama 4 bulan.
Permintaan yang tinggi menyebabkan harga DOD betina bertengger di angka Rp 5.000/ekor dan pejantan Rp 3.000/ekor. “DOD pejantan sekarang juga laku karena tingginya permintaan daging bebek. Apalagi yang jenis turi, karena badannya cukup besar dibanding bebek Tegal dan Delanggu,” terang Musiran.
Pejantan bebek Turi mampu mencapai bobot 1,2 - 1,4 kg/ekor pada umur 2 bulan. Saat ini ada 2 anggota kelompoknya yang membesarkan pejantan, dengan total populasi 700 ekor. “Mereka memasukkan DOD 3 bulan sekali,” katanya. Selain keduanya, DOD pejantan pun di pasaran kini sama lakunya dengan DOD betina. “Ada pedagang yang rutin memesan kepada saya,” ungkap Musiran.
Keunggulan Bebek Turi
Musiran mengungkapkan, permintaan DOD jenis turi tak hanya dari sekitar Jogjakarta. “Permintaan terbesar justru dari sentra produksi padi sepanjang jalur pantai selatan yaitu Kulon Progo, Purworejo, Kebumen, dan Kutoarjo,” paparnya. Menurutnya, bebek turi sangat disukai di daerah itu karena ketangguhannya menyesuaikan dengan kondisi setempat. “Saat sawah sedang jeda, bisa digembalakan. Namun saat sawah ditanami padi, bebek turi langsung menyesuaikan diri dipelihara di dalam kandang tanpa digembalakan. Tidak stres,” kata Musiran.
Musiran lanjut menerangkan, rata-rata produksi telur bebek turi mencapai 75 – 80 %, lebih tinggi dibanding bebek kalung yang hanya 65 – 70 %. Efisiensi pakannya pun lebih baik dibanding bebek kalung. Puncak produksi bisa bertahan selama 2 bulan (saat cuaca bagus) pada kisaran 90 - 95 %. Ukuran telur bebek turi lebih besar dibanding telur bebek Mojosari.
Menurut Musiran, bebek turi unggulan punya ciri-ciri yang khas. Ciri-ciri tersebut anatara lain memiliki bentuk bola mata khas dan menonjol (memenuhi rongga dan kelopak mata), bentuk kepala lonjong seperti buah pinang, bentuk leher ‘menjalin’ (seperti rotan) berbulu polos/tidak berkalung, kaki dan paruh berwarna hitam, bulu badan merah kecoklatan, serta postur tubuh tegak mirip botol.
SUMBER : http://www.trobos.com/show_article.php?rid=29&aid=2793


Tidak ada komentar:
Posting Komentar